Senin, 07 Oktober 2013


Selamat malam mentari ku
Selamat pagi mutiara hidup ku,, ananda di petualangan
Bagaimanakah kabar mu sayang??? Tidakkah kau rindu aroma tanah dikampung halaman mu, tidakkah kau rindu pujian-pujian alunan syair dari langgar-langar yang mendamaikan itu???
Anak ku, mentari dan mutiara hidup ku!! Apa yang kau cari nak??? Lekaslah pulang dan temui aroma wangi tanah pedesaan. Kau adalah wanita nak.
            Aku bagai disambar petir, tangis ku dalam pedihnya hati yang begitu dalam. Entah mengapa hatiku terasa sesak membaca sms itu, mungkin karena memang sangat menyadari betapa diri ini tidak mampu menjadi anak yang mebanggakan ibunya, bahkan 5 th di bangku kuliahpun tak kunjung usai aku menyelesaikan studiy.  Aku bingung membalas sms itu,  hingga akhirnya jari2  ku pun mulai bergerak
Wahai wanita yang dimuliakan Tuhan.
doakan saja anakmu ini yang masih ingin mencari,
meski anandapun kadang bingung apa yang dicari.
Ananda ingin memperjuangakan hak-hak ini  ibu
 ananda ingin menyuarakan emansipasi ini ibu. Tolong restui aku.
Ku kirim sms itu dengan hati yang campur aduk, berharap tuhan mengirimkan udara-udara lembut ke hatinya. Rasa dingin bukit tidar kala malam ini tak mampu kurasakan, bintang yang menghiasi langit-langit malampun tak mampu menghiasi relung-relung kalbuku. Ingin ku lakukan apapun yang bisa mendamaikan hati ini, namun aku hanya mampu mondar-mandir di teras depan kamar lantai atas kamar kos ku. Entah mengapa tiba-tiba mata ini mencuri pandang lewat jendela kamar pada satu titik benda diatas dipan meja kamar, benda berwarna biru laut yang indah. Mushaf, ya benda itu adalah mushaf al-quran yang sempat diberikan ibuku.
Aku masuk kamar bermaksud menyapa benda biru itu, aku menatapnya tajam bersama dengan hati yang gak karu-karuan. Ku tersenyum kecut, entah kapan terakhir aku membaca isi benda itu aku tak tau. Bahkan aku tak tau masihkah lisan ini mampu mengeluarkan makhroj-makhroj huruf hijaiyah. Namun sungguh ada dorongan kuat dari hatiku untuk membacanya, ku buka pelan dan tiba-tiba air mata membasahi pipiku, masih pantaskah tubuh ini membacanya! Karna tubuh ini yang sudah sering meninggalkan ajaran-ajaran yang dulu diajarkan ibunya. Entah karena apa, tapi yang jelas cukup lama ku meninggalkan kewajiban-kewajiban ku terhadap keyakinan ku.
Malam bertaburan bintang malam ini yang kurasa hambar membuatku tersadar akan adanya tuhan dalam hati manusia, dan bahkan aku mulai tak percaya dengan manusia-manusia yang tak percaya akan keberadaan tuhan. Teori apapun yang pernah masuk kedalam otak ku melalui diskusi-diskusi, hancur dimalam itu. Ku mulai membuka halaman-demi halaman, tepat di surat Arrohman aku berhenti, ya surat inilah yang dari dulu sangat sering ku baca, dulu dulu sekali. Ku sebut namaNya, ku mulai membaca dengan suara yang terbata-bata dan air mata yang berkucuran. Surat ini selalu mampu menamparku, mengingatkanku akan ketertimpangan pemaknaan sukur atas Tuhan “fabiayyi ala irobbikuma tukadziban” tepat dilad ini hp ku bordering, ku lihat sms.
Anak ku, kau pernah bercerita tentang aktifis sejati
Ibu mu memang tak faham naak,tapi jujur ibu mu takut atas jalan mu
Ibu mu takut, dengan istilah emansipasi yang pernah kau bilang
Ibu mu pun tak faham apa itu emansipasi
Wanita itu adalah kekuatan, jika yang kau perjuangkan adalah hek mereka
Maka ibu mu berpesan, janganlah hak-hak itu justru akan membuat kehilangan jatidiri seorang wanita
            Aku simpan dalam hatiku pesan itu, aku berusaha memahami kehawatirannya! Apa lagi dengan kondisi terkini, dimana berbagai media tengah memberitakan aktifitas wanita-wanita Amerika yang menuntut emansipasinya, strata yang sama namun salah kaprah. Wanita-wanita yang bugil ria, atas nama hak kebebasan wanita untuk sama dengan gender lainnya. Belum lagi perkembangan social yang terjadi ditengah-tengah masyarakat, wanita-wanita yang mulai memilih menitipkan anak-anaknya dipenampungan “ home scol”. Kekhawatiranku mulai menjadi-jadi, aku mulai khawatir dengan anak-anak kecil itu. Sebagai manusia yang pernah menjadi anak, aku tau betul betapa pentingnya sosok wanita dalam perkembangan anak. Aku tau betul bagaimana pentingnya wanita dalam membentuk karakter anak, dari wanita-wanita inilah anak-anak belajar kelembutan sekaligus kekuatan, belajar dari hal sekecil apapun untuk kebutuhan yang begitu berpegaruh besar dalam hidupnya. Tiba-tiba aku mulai rindu dengan ibu ku, ya rindu amat sangat rindu hingga akhirnya ku putuskan setelah mata esok terbangun aku akan pulang untuk memeluknya erat-erat sembari aku ingin metakan “ ibu aku amat amat menyayangimu”.


*****
            Ku masukkan beberapa pakaian kerangsel ku, tak butuh waktu lama sekedar untuk persiapan mudik. Segera ku bergegas dari rumah kosan ku menuju halte bus dengan langkah cepatku. Hanya beberapa menit berdiri didepan halte, beberapa meter dari arah timur ku  lihat bus jurusan jawa tengah. Ku lambaikan tangan ku dengan pasti, ku ambil duduk di depan bersama seorang wanita tua yang mungkin arinya akan melahirkan inspirasi-inspirasi di otak ku. Sepuluh jam perjalanan dengan segala kemacetannya terasa berlalu begitu saja, mungkin karena obrolan yang begitu menyenangkan dengan  si mbah tua itu. Si mbah tua yang luar biasa, mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk 10 anak dalam menggapai mimpi, heem sungguh semakin membuat aku cinta dan bangga menjadi WANITA.
            Obrolan kita terpaksa berakhir, karena aku harus turun terlebih dahulu, ku cium tangannya sembari ku meminta doa darinya. Kaki ku mulai menginjak tanah kelahiran ku, ku hirup dalam-dalam udaranya, aroma yang masih sama khas desa. Ku percepat kaki ku menuju sebuah bangunan kecil disudut jalan, wajah ku berbinar-benir tak sabar ingin ku memeluknya. Tepat dihalaman rumah, tubuh ku lemas amat amat sangat lemas pipi ku tiba-tiba basah menatap wanita itu, ku lihat wanita diatas kursi roda yang sekian lama ku tak bersamanya, ku berlari padanya ku peluk ia erat amat erat, ku tak berkata sepatah katapun, tak ada kata yang bisa keluar dari lisan ku, hatiku sesak atas rasa dosa-dosa ku pada ibu ku “ aktifis macam apa aku ini, aktifis yang tak mampu menjaga ibunya, sampai-sampai ibu di kursi rodapun ku tak tau”. Ku ciumi keningnya, pipinnya, bibirnya, tangannya berkali-kali, ku cium kakinya ku bersimpuh lemas dikakinya dan ku paksa dengan sekuat-kuatnya untuk berkata “ ibuuuuuuu maaafkan aku… maafkan anak mu ini… maaafkan.. maaafkan….”.

0 komentar:

Posting Komentar