Selamat malam mentari ku
Selamat
pagi mutiara hidup ku,, ananda di petualangan
Bagaimanakah
kabar mu sayang??? Tidakkah kau rindu aroma tanah dikampung halaman mu, tidakkah
kau rindu pujian-pujian alunan syair dari langgar-langar yang mendamaikan
itu???
Anak
ku, mentari dan mutiara hidup ku!! Apa yang kau cari nak??? Lekaslah pulang dan
temui aroma wangi tanah pedesaan. Kau adalah wanita nak.
Aku
bagai disambar petir, tangis ku dalam pedihnya hati yang begitu dalam. Entah
mengapa hatiku terasa sesak membaca sms itu, mungkin karena memang sangat
menyadari betapa diri ini tidak mampu menjadi anak yang mebanggakan ibunya,
bahkan 5 th di bangku kuliahpun tak kunjung usai aku menyelesaikan studiy. Aku bingung membalas sms itu, hingga akhirnya jari2 ku pun mulai bergerak
Wahai
wanita yang dimuliakan Tuhan.
doakan
saja anakmu ini yang masih ingin mencari,
meski
anandapun kadang bingung apa yang dicari.
Ananda
ingin memperjuangakan hak-hak ini ibu
ananda ingin menyuarakan emansipasi ini ibu.
Tolong restui aku.
Ku kirim sms itu
dengan hati yang campur aduk, berharap tuhan mengirimkan udara-udara lembut ke
hatinya. Rasa dingin bukit tidar kala malam ini tak mampu kurasakan, bintang
yang menghiasi langit-langit malampun tak mampu menghiasi relung-relung kalbuku.
Ingin ku lakukan apapun yang bisa mendamaikan hati ini, namun aku hanya mampu
mondar-mandir di teras depan kamar lantai atas kamar kos ku. Entah mengapa
tiba-tiba mata ini mencuri pandang lewat jendela kamar pada satu titik benda
diatas dipan meja kamar, benda berwarna biru laut yang indah. Mushaf, ya benda
itu adalah mushaf al-quran yang sempat diberikan ibuku.
Aku masuk kamar
bermaksud menyapa benda biru itu, aku menatapnya tajam bersama dengan hati yang
gak karu-karuan. Ku tersenyum kecut, entah kapan terakhir aku membaca isi benda
itu aku tak tau. Bahkan aku tak tau masihkah lisan ini mampu mengeluarkan
makhroj-makhroj huruf hijaiyah. Namun sungguh ada dorongan kuat dari hatiku
untuk membacanya, ku buka pelan dan tiba-tiba air mata membasahi pipiku, masih
pantaskah tubuh ini membacanya! Karna tubuh ini yang sudah sering meninggalkan
ajaran-ajaran yang dulu diajarkan ibunya. Entah karena apa, tapi yang jelas
cukup lama ku meninggalkan kewajiban-kewajiban ku terhadap keyakinan ku.
Malam bertaburan
bintang malam ini yang kurasa hambar membuatku tersadar akan adanya tuhan dalam
hati manusia, dan bahkan aku mulai tak percaya dengan manusia-manusia yang tak
percaya akan keberadaan tuhan. Teori apapun yang pernah masuk kedalam otak ku
melalui diskusi-diskusi, hancur dimalam itu. Ku mulai membuka halaman-demi
halaman, tepat di surat Arrohman aku berhenti, ya surat inilah yang dari dulu
sangat sering ku baca, dulu dulu sekali. Ku sebut namaNya, ku mulai membaca
dengan suara yang terbata-bata dan air mata yang berkucuran. Surat ini selalu
mampu menamparku, mengingatkanku akan ketertimpangan pemaknaan sukur atas Tuhan
“fabiayyi ala irobbikuma tukadziban”
tepat dilad ini hp ku bordering, ku lihat sms.
Anak ku, kau pernah bercerita tentang aktifis sejati
Ibu mu memang tak faham naak,tapi jujur ibu mu takut
atas jalan mu
Ibu mu takut, dengan istilah emansipasi yang pernah
kau bilang
Ibu mu pun tak faham apa itu emansipasi
Wanita itu adalah kekuatan, jika yang kau
perjuangkan adalah hek mereka
Maka ibu mu berpesan, janganlah hak-hak itu justru
akan membuat kehilangan jatidiri seorang wanita
Aku
simpan dalam hatiku pesan itu, aku berusaha memahami kehawatirannya! Apa lagi
dengan kondisi terkini, dimana berbagai media tengah memberitakan aktifitas
wanita-wanita Amerika yang menuntut emansipasinya, strata yang sama namun salah
kaprah. Wanita-wanita yang bugil ria, atas nama hak kebebasan wanita untuk sama
dengan gender lainnya. Belum lagi perkembangan social yang terjadi
ditengah-tengah masyarakat, wanita-wanita yang mulai memilih menitipkan
anak-anaknya dipenampungan “ home scol”. Kekhawatiranku mulai menjadi-jadi, aku
mulai khawatir dengan anak-anak kecil itu. Sebagai manusia yang pernah menjadi
anak, aku tau betul betapa pentingnya sosok wanita dalam perkembangan anak. Aku
tau betul bagaimana pentingnya wanita dalam membentuk karakter anak, dari
wanita-wanita inilah anak-anak belajar kelembutan sekaligus kekuatan, belajar
dari hal sekecil apapun untuk kebutuhan yang begitu berpegaruh besar dalam
hidupnya. Tiba-tiba aku mulai rindu dengan ibu ku, ya rindu amat sangat rindu
hingga akhirnya ku putuskan setelah mata esok terbangun aku akan pulang untuk
memeluknya erat-erat sembari aku ingin metakan “ ibu aku amat amat menyayangimu”.
*****
Ku
masukkan beberapa pakaian kerangsel ku, tak butuh waktu lama sekedar untuk
persiapan mudik. Segera ku bergegas dari rumah kosan ku menuju halte bus dengan
langkah cepatku. Hanya beberapa menit berdiri didepan halte, beberapa meter
dari arah timur ku lihat bus jurusan
jawa tengah. Ku lambaikan tangan ku dengan pasti, ku ambil duduk di depan
bersama seorang wanita tua yang mungkin arinya akan melahirkan inspirasi-inspirasi
di otak ku. Sepuluh jam perjalanan dengan segala kemacetannya terasa berlalu
begitu saja, mungkin karena obrolan yang begitu menyenangkan dengan si mbah tua itu. Si mbah tua yang luar biasa,
mengorbankan seluruh jiwa raganya untuk 10 anak dalam menggapai mimpi, heem
sungguh semakin membuat aku cinta dan bangga menjadi WANITA.
Obrolan
kita terpaksa berakhir, karena aku harus turun terlebih dahulu, ku cium
tangannya sembari ku meminta doa darinya. Kaki ku mulai menginjak tanah
kelahiran ku, ku hirup dalam-dalam udaranya, aroma yang masih sama khas desa. Ku
percepat kaki ku menuju sebuah bangunan kecil disudut jalan, wajah ku
berbinar-benir tak sabar ingin ku memeluknya. Tepat dihalaman rumah, tubuh ku
lemas amat amat sangat lemas pipi ku tiba-tiba basah menatap wanita itu, ku
lihat wanita diatas kursi roda yang sekian lama ku tak bersamanya, ku berlari
padanya ku peluk ia erat amat erat, ku tak berkata sepatah katapun, tak ada
kata yang bisa keluar dari lisan ku, hatiku sesak atas rasa dosa-dosa ku pada
ibu ku “ aktifis macam apa aku ini, aktifis yang tak mampu menjaga ibunya,
sampai-sampai ibu di kursi rodapun ku tak tau”. Ku ciumi keningnya, pipinnya,
bibirnya, tangannya berkali-kali, ku cium kakinya ku bersimpuh lemas dikakinya dan
ku paksa dengan sekuat-kuatnya untuk berkata “ ibuuuuuuu maaafkan aku… maafkan
anak mu ini… maaafkan.. maaafkan….”.
0 komentar:
Posting Komentar