Menari
bernyanyi bersama alunan nada-nada gending jawa yang mendamaikan, terus menari
bersama jemari yang lentik, tak peduli
masa sedemikian larut dan hening dia terus menari. Menari menggerakkan semua
anggota badan dan jiwanya, bergerak melepas segala jeratan-jeratan yang tak
jelas dan tak manusiawi. Dia mulai berhenti saat irama demi irama itu mulai
berhenti, “ pak tomblok kenapa berhenti?, lah udah hampir pagi ini, mari kita kukot sudah gak ada penonton itu lo! Ah
pak tomblok, baik lah kalau begitu aku manot
kamu saja, tapi besok kita ketemu
lagi ya? Oky, Pu besok kita ketemu dirumahnya cikrak jam 8 mlm.
Bergegas
setelah semua peralatan dikemas, mereka semua pulang ke gubug masing-masing.
Dingin udara di dini hari di puncak Besuki sudah menjadi sahabat karib dalam
setiap perjalanan rombongan lodrok kejawen itu. Kelompok lodrok yang tetap
bertahan ditengah-tengah gempuran modernisasi, tidak semata-mata mencari mata
pencaharian namun diujung pengharapan mereka ada sesuatu yang mereka
perjuangkan dan pertahankan. Dalam perjalanan sambil bercengkerama, s Sapu
tiba-tiba bibirnya nerocos “ heh kita kayak gini ini ngapain ya? Susah-susah
pulang pagi hanyauntuk pertunjukan yang penontonnya bisa dihitung dg 10 jari
kita?, Aku kecanduan Pu ( jawab Cikar ) sontak si Tomblok kaget “ hah apa
kecanduan? Kecanduan apa kau?” tanya Tomblok dg keheranannya. Ya aku kecanduan
dengan irama gending2 itu, aku kecanduan dengan setiap lakon dalam
cerita-cerita pementasan kita yang menceritakan tokoh2 sakti mandraguna. Ha ha
ha ha ha ha ha kamu itu aneh Kar, adanya dinegeri kita itu orang kecanduan narkoba,
adu jago,topi mireng dan medok ha ha ha cerocos Sapu.
**
Lari
terbirit-birit Sapu menuju rumah Cikar, kaaaar cikar kamu dimana? Heh, ada pa
to kamu itu pagi-pagi dah memeti kayak prawan mau dipaksa kawin aja! Heh Kar tolong aku, itu mbok ku ngamok-ngamok,
aku takut Kar si mbok bawa parang, bisa-bisa disabet tewas seketika. Bergegas
mereka segera menuju rumah Sapu, sesampai dihalaman mereka berhenti dibalik
pohon mahoni yang cukup untuk menutupi kedua tubuh mereka yang bantat-bantat
itu. Mereka masih belum berani mendekati si Mbok, “setres kowok kabeh podo setres setres kabeh setres ha ha ha ha ha
setreees pak presiden setres anak-anak ku melu setres, sawah-sawah podo di
doli, anak ku setres ha ha ha ha anak ku setres” teriakan Mbok yang gila gara-gara
petakan demi petakan sawah dijual oleh anak-anaknya untuk nyogok pejabat demi
menjadi PNS. “dasar bocah edan, sekolah
garai edan, jerene kuliah ben hebat malah dadi goblook haaaaaaaah anak ku edan
setres” bibir si Mbok terus komat kamit memaki-maki anaknya.
Diberanikannya
nyali si Cikar mendekati wanita yang tua renta dengan baju compang-camping yang
lusuh, dan bau badan yang begitu luar biasa aromanya. “ Mbok ayo masuk rumah,
nanti tak petikkan kelapa muda kesukaan mbok” bujuk Cikar pelan, namun si Mbok
malah teriak “ Hah kamu itu edan ya, pohon-pohon kelapa udah minggat dibawa
orang-orang jelek-jelek itu, aku jadi gak bisa minum air degan lagi”. Sontak
Cikar pun kaget dengan gontokan si Mbok, dalam hati terdalam Cikar merasakan
iba yang luar biasa. Dulu si Mbok adalah sosok manusia gunung yang begitu rajin
menanam di sawah, apapun ia tanam selama tanaman itu bisa dimanfaatkan untuk
kebberlangsungan hidupnya. Dari hasil sawah ia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari,
bahkan tak jarang etangganyapun turut menikmati. Namun sayang seribu sayang,
diusianya yang tak muda lagi ia menuai pahitnya hidup oleh sebab anak-anaknya. Dengan
penuh kelembutan diulurkannya tangan Cikar ke Mbok, “ ayo mbok, aku tunjukkan
di depan rumah ku masih ada kelapa gading yang bisa kita petik”, akhirnya
dengan tatapan mata yang begitu sayu wanita tua itupun mengulurkan tangannya
kepada Cikar.
Dan Benar tak
bebera lama sesampai dirumah Cikar wanita tua itu tersenyum girang saat ia
melihat masih ada pohon kelapa yang tumbuh kokoh didepan rumah Cikar. Segeralah
dipanjat pohon itu oleh Cikar untuk kemudian diambil airnya, “ heem segaaaar,
inilah air surga tanah kita” cerocos si mbok setelah meminum air degan itu.
**
Malam itu si
Sapu dan si Cikar ngopi bareng diangkringan dekat rumah Cikar, bertemankan kopi
dan sepiring singkong goreng hasil dari kebun. Malam itu begitu indah di puncak
gunung Besuki, udara yang dingin justru membuat obrolan dei obrolan dari ujung
kulon sampai ujung wetan terasa nikmat. Kabar mbok mu gimana Pu?, ya begitulah
setiap hari ngomel2 gak jelas, mencaci dan terus mencaci anak-anaknya yang
menjual sawahnya. Sapu menarik nafasnya panjang-panjang, aku kasihan sama si
Mbok Kar, ingiiin rasanya aku belikan dia sepetak sawah agar si mbok bisa
bercocok tanam lagi, hatiku miris Kar tiap kali si Mbok melihat hamparan sawah
milik tetangganya, kadang sawah-sawah tetangga itu ditanami sama mbok ku,
(ungkap cikar memelas). Ya mau gimana lagi kita ini Pu, itu mungkin bedanya
kita dengan orang-orang tua kita, saat si Mbok mu menanam dia sedang memikirkan
nasip anak cucunya puluhan tahun mendatang, tapi anak? Si Cikar mengangkat
baunya,kemudian menjawab-jawab sendiri pertanyaanya, si anak hanya melakukan
sesuatu yang menurutnya bermanfaat untuk dirinya.
By. Pena
Najma, di ujung desa Batuaji
25
Oktober 2013, 00.30
0 komentar:
Posting Komentar