Kamis, 24 Oktober 2013


Menari bernyanyi bersama alunan nada-nada gending jawa yang mendamaikan, terus menari bersama jemari yang lentik, tak  peduli masa sedemikian larut dan hening dia terus menari. Menari menggerakkan semua anggota badan dan jiwanya, bergerak melepas segala jeratan-jeratan yang tak jelas dan tak manusiawi. Dia mulai berhenti saat irama demi irama itu mulai berhenti, “ pak tomblok kenapa berhenti?, lah udah hampir pagi ini, mari kita kukot sudah gak ada penonton itu lo! Ah pak tomblok, baik lah kalau begitu aku manot  kamu saja, tapi besok kita ketemu lagi ya? Oky, Pu besok kita ketemu dirumahnya cikrak jam 8 mlm.
Bergegas setelah semua peralatan dikemas, mereka semua pulang ke gubug masing-masing. Dingin udara di dini hari di puncak Besuki sudah menjadi sahabat karib dalam setiap perjalanan rombongan lodrok kejawen itu. Kelompok lodrok yang tetap bertahan ditengah-tengah gempuran modernisasi, tidak semata-mata mencari mata pencaharian namun diujung pengharapan mereka ada sesuatu yang mereka perjuangkan dan pertahankan. Dalam perjalanan sambil bercengkerama, s Sapu tiba-tiba bibirnya nerocos “ heh kita kayak gini ini ngapain ya? Susah-susah pulang pagi hanyauntuk pertunjukan yang penontonnya bisa dihitung dg 10 jari kita?, Aku kecanduan Pu ( jawab Cikar ) sontak si Tomblok kaget “ hah apa kecanduan? Kecanduan apa kau?” tanya Tomblok dg keheranannya. Ya aku kecanduan dengan irama gending2 itu, aku kecanduan dengan setiap lakon dalam cerita-cerita pementasan kita yang menceritakan tokoh2 sakti mandraguna. Ha ha ha ha ha ha ha kamu itu aneh Kar, adanya dinegeri kita itu orang kecanduan narkoba, adu jago,topi mireng dan medok ha ha ha cerocos Sapu.
**
Lari terbirit-birit Sapu menuju rumah Cikar, kaaaar cikar kamu dimana? Heh, ada pa to kamu itu pagi-pagi dah memeti kayak prawan mau dipaksa kawin aja! Heh  Kar tolong aku, itu mbok ku ngamok-ngamok, aku takut Kar si mbok bawa parang, bisa-bisa disabet tewas seketika. Bergegas mereka segera menuju rumah Sapu, sesampai dihalaman mereka berhenti dibalik pohon mahoni yang cukup untuk menutupi kedua tubuh mereka yang bantat-bantat itu. Mereka masih belum berani mendekati si Mbok, “setres kowok kabeh podo setres setres kabeh setres ha ha ha ha ha setreees pak presiden setres anak-anak ku melu setres, sawah-sawah podo di doli, anak ku setres ha ha ha ha anak ku setres” teriakan Mbok yang gila gara-gara petakan demi petakan sawah dijual oleh anak-anaknya untuk nyogok pejabat demi menjadi PNS. “dasar bocah edan, sekolah garai edan, jerene kuliah ben hebat malah dadi goblook haaaaaaaah anak ku edan setres” bibir si Mbok terus komat kamit memaki-maki anaknya.
Diberanikannya nyali si Cikar mendekati wanita yang tua renta dengan baju compang-camping yang lusuh, dan bau badan yang begitu luar biasa aromanya. “ Mbok ayo masuk rumah, nanti tak petikkan kelapa muda kesukaan mbok” bujuk Cikar pelan, namun si Mbok malah teriak “ Hah kamu itu edan ya, pohon-pohon kelapa udah minggat dibawa orang-orang jelek-jelek itu, aku jadi gak bisa minum air degan lagi”. Sontak Cikar pun kaget dengan gontokan si Mbok, dalam hati terdalam Cikar merasakan iba yang luar biasa. Dulu si Mbok adalah sosok manusia gunung yang begitu rajin menanam di sawah, apapun ia tanam selama tanaman itu bisa dimanfaatkan untuk kebberlangsungan hidupnya. Dari hasil  sawah ia bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari, bahkan tak jarang etangganyapun turut menikmati. Namun sayang seribu sayang, diusianya yang tak muda lagi ia menuai pahitnya hidup oleh sebab anak-anaknya. Dengan penuh kelembutan diulurkannya tangan Cikar ke Mbok, “ ayo mbok, aku tunjukkan di depan rumah ku masih ada kelapa gading yang bisa kita petik”, akhirnya dengan tatapan mata yang begitu sayu wanita tua itupun mengulurkan tangannya kepada Cikar.
Dan Benar tak bebera lama sesampai dirumah Cikar wanita tua itu tersenyum girang saat ia melihat masih ada pohon kelapa yang tumbuh kokoh didepan rumah Cikar. Segeralah dipanjat pohon itu oleh Cikar untuk kemudian diambil airnya, “ heem segaaaar, inilah air surga tanah kita” cerocos si mbok setelah meminum air degan itu.
**
Malam itu si Sapu dan si Cikar ngopi bareng diangkringan dekat rumah Cikar, bertemankan kopi dan sepiring singkong goreng hasil dari kebun. Malam itu begitu indah di puncak gunung Besuki, udara yang dingin justru membuat obrolan dei obrolan dari ujung kulon sampai ujung wetan terasa nikmat. Kabar mbok mu gimana Pu?, ya begitulah setiap hari ngomel2 gak jelas, mencaci dan terus mencaci anak-anaknya yang menjual sawahnya. Sapu menarik nafasnya panjang-panjang, aku kasihan sama si Mbok Kar, ingiiin rasanya aku belikan dia sepetak sawah agar si mbok bisa bercocok tanam lagi, hatiku miris Kar tiap kali si Mbok melihat hamparan sawah milik tetangganya, kadang sawah-sawah tetangga itu ditanami sama mbok ku, (ungkap cikar memelas). Ya mau gimana lagi kita ini Pu, itu mungkin bedanya kita dengan orang-orang tua kita, saat si Mbok mu menanam dia sedang memikirkan nasip anak cucunya puluhan tahun mendatang, tapi anak? Si Cikar mengangkat baunya,kemudian menjawab-jawab sendiri pertanyaanya, si anak hanya melakukan sesuatu yang menurutnya bermanfaat untuk dirinya.
By. Pena Najma, di ujung desa Batuaji
25 Oktober 2013, 00.30


0 komentar:

Posting Komentar